Senin, 20 Mei 2013

"Mengapa PKS Sulit Dilemahkan?"


| Achmad Siddik


PKS lagi, PKS lagi. Semua orang tak berhenti membicarakan PKS. Semua kanal media rasanya tak afdlol tanpa menjadikan PKS sebagai berita, baik Headline maupun berita tambahan. Tak hanya itu, tema apapun yang melekatkan nama PKS selalu disimak atau minimal di klik oleh pembaca. Saya sendiri jadi tertarik menjadikan PKS sebagai bahan tulisan karena fenomenanya telah menjadi sumber yang bisa dibahas dari segalan sisi.

Mengapa PKS begitu disorot? Apakah PKS sengaja dijadikan obyek pengalihan isu dari isu-isu besar negara ini seperti korupsi di kalangan pejabat dan lembaga pemerintah, narkoba, terorisme dan isu lain. Apakah karena PKS yang menjadikan moralitas dan dakwah dalam agenda politiknya mengancam partai politik lain? Apakah karena PKS lantang menyuarakan aspirasi sebagian besar rakyat terkait pengusutan kasus korupsi, kenaikan BBM, penguatan KPK, dll? Apakah karena PKS di beberapa daerah berhasil “merebut” tampuk kepemimpinan melalui pilkada? Saya yakin banyak hal lain yang menjadi alasan mengapa PKS tak akan lepas dari sorotan media.

Sebelum berisik media terkait kasus dugaan suap impor daging yang menjerat mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq, ada dua kasus lain untuk  melemahkan partai dakwah ini. Kasus tersebut mendominasi pemberitaan  saat itu. Misbakhun, mantan anggota Fraksi PKS yang diduga terlibat pemalsuan surat gadai untuk mendapatkan kredit dari Bank Century dalam waktu sangat singkat ditetapkan jadi tersangka, dipenjarakan dan disidang. Hasil persidangan mengagetkan banyak orang, Misbakhun tidak bersalah dan divonis bebas (Baca detik.com : PK Diterima MA Misbakhun Diputus Bebas )

Kemudian, kasus “video” dari Arfinto, salah satu anggota DPR dari FPKS telah membuat geger dunia politik dalam negeri. Namun PKS bisa mengatasinya dengan permohonan  maaf dan pengunduran diri Arifinto. Kasus video Arifonto ini banyak kejanggalan dimana demikian “professional” nya media mendapat bidikan kegiatan Arifinto di sidang paripurna padahal ada ratusan anggota dewan lain yang ada di ruangan itu. (baca tulisan kompasianer : Mafia Wartawan : Studi Kasus Arifinto )

Pengunduran diri Luthfi Hasan Ishaq (LHI) pasca penetapan dirinya sebagai tersangka oleh KPK atas dugaan suap kuota impor daging menjadi drama pelemahan PKS berikutntya. Apa yang dilakukan PKS? PKS menjawabnya dengan segera mengganti LHI dengan Muhammad Anis Matta sebagai Presiden PKS melalui keputusan Majelis Syuro PKS. Proses pergantian pimpinan partai di Indonesia yang paling cepat ini, diisi oleh orasi politik Anis Matta yang menurut banyak ungkapan pendukung PKS sebagai Orasi yang Cetar Membahana. Orasi ini diyakini kader dan pendukung PKS mampu membalikkan dugaan banyak pengamat politik bahwa PKS makin lemah,  akan jatuh dan sulit bangkit lagi. Faktanya PKS mampu bangkit dan menjadi kontributor paling signfikan dalam kemenangan Pilgub di Jawa Barat dan Sumatera Utara.

Kasus LHI terus menggelinding bak bola salju. Dugaan suap yang menjerat LHI akhirnya melebar ke kasus pencucian uang. Media meledakkan kasus ini dengan bumbu-bumbu perempuan seksi yang terkait denga Ahmad Fatanah. Puncaknya, media memiliki celah kembali lewat aksi security PKS yang menolak penyitaan mobil yang diduga hasil pencucuian uang oleh KPK. KPK yang tidak bisa menyita mobil di area kantor DPP PKS dikesankan sebagai perlawanan oleh PKS oleh media. Munculllah headline “PKS melawan”  dan “KPK vs PKS”.  PKS seolah  dalam pusaran badai yang semakin terjepit. PKS mengakhiri pusaran badai berita “perlawanan” itu dengan penyerahan mobil-mobil tersebut dengan aman dan damai karena KPK membawa surat-surat yang seharusnya tersedia saat melakukan penyitaan.

Sampai kemudian acara yang banyak menyita pemirsa  televisi di Indonesia, Indonesia Lawyer Club menayangkan talkshow dengan tema “Uang Daging Mengalir Kemana” publik sebagai beranggapan PKS akan “dibantai” di acara ini. Hasilnya diluar dugaan, para pakar dan sebagian besar peserta ILC justru memandang kasus pencucian uang yang disangkakan ke LHI terkandung muatan politis dan makin mengesankan KPK melakukan aksi “Tebang Pilih”.  PKS tidak sampai menjadi bulan-bulanan dan justru berbalik, posisi KPK menjadi tersudut.

Pelemahan PKS akan memuncak pada persidangan yang mengagendakan kesaksian Ahmad Fathanah (AF) pada jumat, 17 Mei 2013. Ahmad Fathanah yang merupakan kunci “pelemahan” PKS yang selama ini dijadikan sumber oleh KPK justru bersaksi meringankan pada sidang tersebut. Bahkan AF menyatakan permintaan maaf pada PKS karena ikut menyeret partai tersebut dalam kasus yang tidak ada kaitannya dengan partai berlambang bulat sabit dan padi emas itu. (Baca kompas.com Fathanah Minta Maaf pada PKS ) Lagi-lagi PKS tidak jadi lemah. Justru pasca kesaksian AF ini, moral PKS termasuk kadernya semakin tinggi dan keyakinan akan bebasnya LHI semakin besar. Beberapa akun twitter yang sempat terlintas di TimeLine dam dua hari terakhir, banyak kicauan yang menabalkan tagar#BebaskanLHI. Lagi-lagi untuk  yang kesekian kalinya, PKS gagal dilemahkan.

Mengapa PKS sulit dilemahkan dengan berbagai skenario, yang diyakini oleh pimpinannya sebagai upaya “Konspirasi” ini? Akan sangat banyak analisa yang akan terangkai dalam tulisan dan  pembicaraan bila menjawab pertanyaan tersebut. Karena saya bukan pengamat politik, saya tak bisa mengulasnya dari sisi politik. Saya bukan pakar komunikasi politik, jadi saya takkan memaksakan diri menganalisa dari sisi itu. Saya hanya warga negara biasa yang peduli akan keadilan hukum dan persatuan bangsa.

Satu hal yang perlu dicamkan banyak orang, bahwa ada “campur tangan” lain yang mungkin terlewatkan oleh pihak-pihak yang selama ini punya upaya pelemahan tesebut. Kader-kader PKS dan sebagian masyarakat yang mendukung PKS, sangat yakin, bila PKS masih jujur dan berada pada jalaur yang lurus dalam mengemban amanah, Tangan Tuhan akan menjadi pelindung mereka. Skenario Tuhan yang belum menginginkan PKS lemah dan hancur sangat diyakini oleh para pendukung PKS. Keyakinan spriritual inilah yang akan terus menjadi amunisi terhebat yang dimiliki oleh PKS dan banyak orang juga yakin dengan kekuatan ini.

Skenario Tuhan akan membalikkan semua niat buruk dan upaya jahat manusia. Maka kita bisa lihat, orang-orang zaman Orde Baru yang menjadi tahanan politik karena menjadi pihak yang kritis, justru menjadi tokoh penting di era reformasi. Mereka yang berjuang masih pada jalan yang benar dan lurus, meski dengan tipu muslihat dan kelicikan, takkan pernah merasa takut dan lemah hanya karena pengapnya penjara, tikaman fitnah dan penghancuran nama baik. Orang-orang yang berjuang dengan tetap mengedepakan moral pasti meyakini adanya “skenario-Nya” yang lebih indah pada akhirnya.

Dimanapun kita berjuang, apapun partai dan media perjuangannya, jangan lupa akan ”skenario-Nya” yang takkan mampu dilawan oleh kekuatan tirani bahkan konsprasi sekalipun. Satu syarat, kita perlu dekat sedekat dekatnya dengan Tuhan agar DIA berkenan memberi “skenario” yang indah pada ujungnya. Satu syarat lagi,  sadarilah bahwa kita juga tak lepas dari salah dan khilaf kemudian melakukan pertaubatan yang telah kita ikrarkan. Bukan pertaubatan yang kamuflase yang diikrarkan ke berbagi kanal media namun abai melakukannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Salam keadilan!

Artikel Terkait:

0 komentar:

Poskan Komentar