Rabu, 05 Juni 2013

‘Masa Tuhan Bisa Mati?’ & Anthony Pun Masuk Islam



ANTHONY Vatswaf Galvin Green lahir Dar es Salam, Tanzania. Ibunya seorang Katolik yang taat dan ayahnya seorang agnostik, dan sejak kecil Anthony dididik sebagai seorang Katolik yang taat.  Ayahnya seorang administrator kolonilal kerajaan Inggris. Kini, kerajaan yang terbentang begitu luasnya lebih dari sepertiga permukaan bumi itu telah hancur. Satu-satunya yang tersisa adalah beberapa pulau di Falklands. Begitu banyak hal yang berubah, termasuk Antony, bahkan namanya kini berubah menjadi Abdur Raheem Green—setelah ia masuk Islam tentunya.
Oleh ibunya, Anthony kecil adiknya, Duncan disekolahkan di asrama biara. Setiap hari ia hidup bersama para biarawan di Ampleforth College, di Yorkshire, Inggris Utara. Sang ibu menganggap dengan bersekolah di asrama akan membuat Anthony menjadi penganut Katolik yang taat.

Bercanda dengan Menyebut Nama Allah, Al Qur’an, atau Rasulullah



“Dan jika kamu tanyakan kepada orang-orang munafik (tentang apa yang mereka lakukan) tentulah mereka akan menjawab : “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.”

Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kalian selalu berolok-olok ?”
Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman…” (QS. At Taubah, 65 – 66)

Masalah yang sangat penting sekali, bahwa orang yang bersenda gurau dengan menyebut nama Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya adalah kafir. Ini adalah penafsiran dari ayat diatas, untuk orang yang melakukan perbuatan itu, siapapun dia.

Selasa, 04 Juni 2013

Apa MOTIVASI mu Hari Ini ....???



seseorang mulai menyadari suatu jalan, apakah itu jalan kebaikan atau jalan keburukan yang bagaimanapun adalah kompilasi dari jalan kehidupan.

Yang menentukan motivasi kita hari ini adalah diri kita sendiri, bukan orang atau lingkungan yang berada disekitar kita. Walau demikian lingkungan juga memiliki peran dalam menentukan motivasi kehidupan kita. pengibaratan yang seringkali kita dengar bahwa ketika kita berteman dengan seorang tukang parfum, walalupun tak dapat membeli parfumnya tapi tetap akan kecipratan wanginya.

Jika LHI terbukti "bersalah" Apakah Kita harus malu?



Tulisan ini terinspirasi dari percakapan saya dengan orangtua serta teman beberapa hari yang lalu. Berawal dari diskusi tentang gonjang-ganjing berita mengenai kasus yang menimpa PKS akhir-akhir ini, yang mereka dengar dan saksikan lewat media (terutama TV). Karena mereka tahu bahwa saya adalah kader  PKS, maka mereka pun  menanyakan kebenaran berita (isu) itu kepada saya. Dan saya menjawab,
“Belum tentu benar. Semua masih dalam proses hukum…” Lalu mereka bertanya lagi, “Jika nanti LHI terbukti bersalah, bagaimana…? PKS khan partai dakwah, masa’ kamu gak malu…?” Sejenak saya terdiam. 

Tidak tahu harus berbicara apa. Tak bisa saya pungkiri, bahwa ada kebingungan dan kegalauan dalam hati saya ketika itu. Tapi sebagai kader PKS, tentu saja saya tak mau menampakkannya di depan siapa pun juga. Saya harus bisa menyimpannya rapat-rapat jauh di dalam lubuk hati saya.
Berhari-hari pertanyaan ini singgah dan mengusik pikiran saya. Berhari-hari pula saya berusaha mencari jawabnya. Jawaban yang pas buat orangtua dan teman saya, juga jawaban buat diri saya sendiri. Iya ya…kalau seandainya Ustadz LHI terbukti bersalah, sudah pasti saya akan malu sekali. Terus saya harus gimana? Sikap apa yang harus saya tunjukkan kepada orangtua, teman, saudara, tetangga dan orang-orang di sekitar saya? Apakah saya harus terus membela partai saya ini? Apakah saya akan terus berada di sini? Begitu banyak pertanyaan yang menggayuti benak saya. Sampai akhirnya saya merasa telah menemukan “jawaban”nya yang saya tuangkan dalam tulisan ini.

Sepucuk Surat LHI Untuk Putrinya Tercinta



 Ananda Qaanita yang ayah sayangi,
Assalamualaikum Wr. Wb
Kalau dalam surat ayah sebelumnya ada cerita tentang ayah yang bermimpi bertemu mama dalam suasana bahagia, rabu pagi tadi setelah shalat malam dan shalat subuh, ayah tidur lagi (padahal janjian olah raga bareng) dalam mimpi pagi di hari rabu ayah melihat ketabahan dan kesabaran mama menanti ayah yang sedang menjalankan banyak pekerjaan dengan dua anaknya yang masih kecil-kecil entah siapa mereka, abang dan anit yang masih kecil kah atau anit dan najiah yang masih bayi … Meskipun nampak letih dan lelah juga bête tapi wajahnya yang imut-imut memancarkan ketabahan dan kesabaran dalam penantian… menanti ayah membantu meringankan tugas-tugas yang sedang ia jalankan… suasanannya seperti di Eropa atau mungkin di sebuah guest house di Islam abad…