Selasa, 07 Mei 2013

Perjuangan Pemuda dan Tradisi Ilmu



Masa Muda adalah Masa Kekuatan prima seorang Manusia. Dr. Yusuf Qaradhawi mengibaratkan usia Muda bagaikan matahari ketika pukul 12.00 yang bersinar paling terang dan panas. Tidak hanya kekuatan namun juga semangat yang membara dari seorang pemuda. Karena itu jangan heran jika Pemuda dan Mahasiswa sering kali menjadi tumpuan dalam setiap perubahan bagi suatu Negara. Tetapi kebangkitan suatu Negara tentu tidak cukup hanya didasari kekuatan dan semangat. Perlu penempatan yang jelas bagaimana Kekuatan dan semangat yang berlebih itu digunakan. 
Tentu saja bukan untuk menuruti hawa nafsu pemuda yang menggebu, namun bagaimana semua itu bisa digunakan untuk membangun tradisi ilmu.
Kenapa sih tradisi ilmu? Semua peradaban yang pernah tercatat dengan tinta emas di lembaran sejarah manusia pasti diawali dengan kebangkitan tradisi ilmu. Kejayaan Islam lahir karena Rasulullah mengajarkan bagaimana pentingnya menuntut ilmu. Beliau telah mengubah kebiasaan bangsa Arab yang hanya mengandalkan budaya lisan menjadi budaya menulis. Para sahabat tidak hanya di suruh menghafalkan namun juga menuliskan setiap firman Allah yang turun.

Pemuda Mewarnai Peran-Peran Kehidupan



Apa yang harus dilakukan anak muda itu sama seperti yang mesti dilakukan seorang petani. Ia wajib mempersiapkan diri untuk menghadapi musim hujan. Bila ia menghabiskan seluruh hasil panennya, tentu ia akan miskin saat sudah tidak panen lagi. (Ibnu al Jauzi, Shaid Al-Khâtir)

Berbicara tentang pemuda maka ada banyak cerita inspiratif yang akan terpapar. Mulai dengan semangat tingginya dalam menjalani hidup. Tentang perannya yang begitu besar. Fisiknya yang kuat. Pemikiran dan ide-idenya yang cemerlang. Dan tentang kesempatan emas ini; masa muda untuk apa ia habiskan. Apakah untuk amal kebaikan atau keburukan. Tapi semoga kita termasuk ke dalam segolongan pemuda yang selalu berada dalam koridor kebaikan dan petunjukNya seperti yang tercantum dalam surat Al-Kahfi [18] ayat 30,
 “Sungguh, mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan yang baik itu.” Dan surat Al-Kahfi ayat 13, “Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.”

"Lahirnya Pemimpin Semesta"



Ahmad Hudan Ro'isyi

Menjadi pemimpin merupakan cita cita setiap manusia. Bahkan di dalam keseharian kita dianjurkan untuk berdoa agar dijadikan pemimpin. Menjadi pemimpin merupakan social needs. Hal ini merupakan sebuah resiko hidup menjadi makhluk sosial. Kebutuhan menjadi seorang pemimpin berlaku dalam semua aspek.

Contohnya dalam tataran sosial, dalam tataran bisnis, dalam tataran keagamaan, dalam tataran entitas kebudayaan dan lain sebagainya. Walaupun dalam prakteknya seluruh tataran tersebut masuk dalam bingkai keagamaan, artinya disini agama mengambil peran yang signifikan untuk mengolah manusia menjadi pribadi pribadi unggul yang siap ditempatkan untuk berkontribusi ke seluruh tataran atau lapisan masyarakat.

Jangan Biarkan Usahamu Bernilai Nol Besar!!


Mungkin kita pernah belajar matematika di saat sekolah di SD dahulu, coba diingat, pasti bukan menjadi rahasia umum lagi ada sebuah “teorema”. hehe. Bunyinya seperti ini, “Barangsiapa suatu bilangan, kecil atau besar sekalipun jika bilangan tersebut dikalikan dengan nol maka hasilnya akan bernilai nol”
Gak usah dicari alasannya, ini sudah menjadi suatu teori yang memang kita harus menerima… haha.
Nah, coba kita tarik suatu teorema itu dalam kehidupan kita, Allah juga memberikan sebuah formulasi kehidupan yang gak jauh beda dengan teorema matematika itu. Barang siapa beraktivitas jika diniatkan untuk kebaikan dan karena Allah maka aktivitas itu akan bernilai sebuah Ibadah, cukup mudah bukan? Yup, itulah kemurahan Allah.

3 Periode Krusial Menuju PKS 3 Besar


"Keterkejutan, Kesadaran lalu Kemantapan"


Oleh Imam Maulana, S.T *)
        
Melihat konstelasi politik yang terjadi saat ini dan sedikit membuka lembaran-lembaran catatan perjalanan partai da’wah ini mulai dari awal tahun 2013 sampai setidaknya nanti 2014 maka PKS akan melewati 3 (tiga) periode yang sangat krusial :

Pertama, Periode Keterkejutan

Periode ini di mulai ketika ‘kriminalisasi’ kasus daging impor dengan ditangkapnya mantan Presiden PKS, walaupun sampai sekarang konstruksi hukumnya masih belum jelas. Kejadian ini sungguh memberikan efek kejut yang luar biasa bagi kader dan partai ini. Layaknya orang terkejut, kadang sedikit menimbulkan keterguncangan, ketidakpercayaan, kegalauan dan berbagai macam efek lainnya