Jumat, 22 Maret 2013

DIET TELEVISI


Oleh: dr. Ariani
AKHIR-akhir ini, saya sedang berkonsentrasi melakukan diet televisi untuk kedua buah hati. Masalah ini timbul ketika kami terpaksa harus menumpang di orang tua dengan berbagai pertimbangan. Di rumah neneknya, televisi terbiasa menyala hampir 24 jam sehari. Bahkan ketika tidak ada yang menonton. Wuih, repot kan?
Pada akhirnya, menonton televisi menjadi kebiasaan baru buah hati saya.  Dan ternyata  banyak yang mengalami masalah seperti yang saya alami. Coba simak data yang saya kutip dari majalah Ummi ini:
Dari Penelitian UNDIP dalam menyiapkan baseline data untuk Pendidikan Media 2008, mendapati mayoritas anak-anak yang diteliti mengaku menghabiskan waktu 3-5 jam pada hari sekolah dan 4-6 jam pada hari libur untuk menonton televisi. Bahkan beberapa dari mereka secara ekstrem mengaku menonton teve 16 jam pada hari libur!

Sidik Jari Dalam Kubur


SAYA mengerti jika anda menganggap judul kisah ini cukup mengherankan, tetapi kejadian yang diceritakan sesungguhnya lebih mengherankan lagi. Kisah ini tentang perasaan yang telah mati… dan qalbu yang tidak sedikitpun mengingat hal-hal ghaib yang patut diimani. Ini adalah kisah nyata yang terjadi beberapa tahun yang lalu di Mesir, tepatnya di kota Kairo.
Adalah sejumlah laki-laki muda bersaudara yang memiliki hubungan yang harmonis, hanya saja orang tua mereka tidak mendidik mereka dalam nuansa religius mencintai agama dan taat kepada Allah. Dia tidak mengarahkan mereka untuk mempelajari agama ini, sebaliknya pendidikan dan pembinaan yang diberikannya hanya berbau materi belaka, makanan dan minuman yang enak, pakaian yang bagus, sekolah elit, dan rumah mewah; sayang tanpa simpul agama yang menghubungkan mereka dengan Allah subhanahu wa ta’ala.

Rabu, 20 Maret 2013

Qaanita Luthfi: ‘Ayah Kami Nggak Ada Nganggurnya’


APA tanggapan anak-anak Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) terkait status ayahnya yang kini berada di Rutan Guntur? Yang pasti, menurut Qaanita Luthfi, anak perempuan LHI, hampir tidak ada yang berubah.
“Antara ayah di DPP PKS dan di rutan, kami lihat kesibukannya sama saja nggak ada nganggurnya, kayak lagi di DPP pindah ke rutan aja,” terang Qaanita, 23, sambil tersenyum. “Ayah memang bisa mengotak-kotakan semua persoalan di kepalanya. Jadi kalau yang berkunjung teman ayah si A, si B, si C, kemudian sisa (waktu)-nya baru untuk kita. Kita sih sudah terbiasa akan hal itu.”
Qaanita menurutkan bahwa yang paling jelas berubah ritme LHI adalah waktu tidurnya. “Kami lihat waktu tidur ayah lebih teratur, ada banyak kesempatan buat olah raga lagi, jadi tampak ayah sehat.”

Berbakti Kepada Orang Tua



1. Berbicaralah kamu kepada kedua orang tuamu dengan adab dan janganlah mengucapkan “Ah” kepada mereka, jangan hardik mereka, berucaplah kepada mereka dengan ucapan yang mulia.

2. Selalu taati mereka berdua di dalam perkara selain maksiat, dan tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.

3. Lemah lembutlah kepada kedua orangtuamu, janganlah bermuka masam serta memandang mereka dengan pandangan yang sinis.
4. Jagalah nama baik, kemuliaan, serta harta mereka. Janganlah engkau mengambil sesuatu tanpa seizin mereka.

5. Kerjakanlah perkara-perkara yang dapat meringankan beban mereka meskipun tanpa diperintah. Seperti melayani mereka, belanja ke warung, dan pekerjaan rumah lainnya, serta bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu.

Dalam 3 Tahun Muslimah Indonesia Ini Islamkan Belasan Warga Polandia



TINGGAL di negara yang umat Islamnya minoritas bukan menjadi alasan untuk tidak mendakwahkan kebenaran Islam, justru seharusnya menjadi pemicu untuk lebih giat lagi menyampaikan Islam yang sebenarnya.
Meskipun di banyak wilayah dunia yang umat Islamnya minoritas dan sering menjadi sasaran Islamofobia, kebangkitan umat Islam lebih menggeliat, rasa persaudaraan sesama Muslim pun lebih terasa dibandingkan jika tinggal di negara yang mayoritas penduduknya Muslim.
Hal tersebut juga dialami oleh seorang Muslimah asal Indonesia yang sempat tinggal di Krakow, salah satu kota kecil yang ada di Polandia. Keberadaan dia bersama keluarganya di sana telah menjadi cahaya terang bagi hidupnya dakwah Islam di negeri asal mantan Paus Benedictus tersebut.